Kuala Lumpur — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IIQ Jakarta kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat internasional. Selma Tahlis Jazila berhasil meraih penghargaan 2nd Best Presenter dalam kegiatan Changemaker Youth Excursion IX (CAYE) yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Capaian ini menambah daftar panjang prestasi mahasiswa IIQ Jakarta di panggung global dan membuktikan bahwa pendidikan berbasis Al-Qur’an mampu melahirkan generasi muda yang berdaya saing internasional.
Forum yang berlangsung pada 22–25 Oktober 2024 ini mempertemukan pemuda dari berbagai negara untuk mempresentasikan gagasan perubahan sosial dan kepemimpinan generasi muda. CAYE IX merupakan forum tahunan bergengsi yang diikuti oleh ratusan peserta muda dari berbagai penjuru dunia, dengan tema besar pemberdayaan pemuda sebagai agen perubahan dalam menghadapi tantangan global. Setiap peserta ditantang untuk menyampaikan gagasan inovatif yang relevan dengan isu-isu sosial, pendidikan, dan kepemimpinan masa kini.
Selma tampil dengan percaya diri dalam menyampaikan ide yang diusungnya, sehingga mampu bersaing dengan peserta internasional lainnya. Dalam presentasinya, Selma mengangkat gagasan tentang peran pendidikan Islam dalam membentuk karakter pemuda yang adaptif, toleran, dan berwawasan luas. Penyampaiannya yang lugas dan argumentatif berhasil menarik perhatian para juri dan peserta dari berbagai negara, menjadikannya salah satu presenter terbaik dalam forum tersebut.
Keikutsertaan Selma dalam forum internasional ini merupakan bagian dari upaya IIQ Jakarta dalam mendorong mahasiswanya untuk aktif terlibat dalam kegiatan lintas budaya dan lintas bangsa. Pihak kampus secara aktif memfasilitasi mahasiswa berprestasi untuk mengikuti berbagai forum, konferensi, dan kompetisi internasional sebagai sarana memperluas wawasan, membangun jaringan global, serta mengasah kemampuan komunikasi dalam bahasa asing.
Rektor IIQ Jakarta menyampaikan bahwa capaian ini menjadi bukti kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia global. “Kami terus mendorong mahasiswa untuk berani tampil di forum internasional, membawa gagasan, serta memperkenalkan perspektif keislaman yang moderat dan konstruktif,” ujarnya. Beliau juga menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam forum-forum seperti CAYE merupakan wujud nyata dari visi IIQ Jakarta sebagai perguruan tinggi Islam yang berwawasan global dan terbuka terhadap dialog antarbangsa.
Dosen Fakultas Tarbiyah menambahkan bahwa kemampuan komunikasi global menjadi kompetensi penting saat ini. “Mahasiswa perlu dilatih untuk tidak hanya memahami ilmu, tetapi juga mampu menyampaikannya secara efektif di ruang internasional,” jelasnya. Ia juga mengungkapkan bahwa Fakultas Tarbiyah IIQ Jakarta terus berupaya mengintegrasikan pelatihan public speaking, penguasaan bahasa asing, dan pengembangan pemikiran kritis ke dalam kurikulum dan kegiatan kemahasiswaan, sehingga mahasiswa siap bersaing di forum-forum bergengsi di tingkat nasional maupun internasional.
Selma mengungkapkan rasa syukur atas pencapaiannya. “Pengalaman ini sangat berharga karena saya bisa belajar dari peserta dari berbagai negara. Ini memotivasi saya untuk terus mengembangkan diri,” katanya. Mahasiswi yang dikenal aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan kampus ini juga menyebutkan bahwa pengalamannya berinteraksi langsung dengan pemuda dari berbagai latar belakang budaya membuka perspektif baru tentang peran Islam dalam menjawab tantangan global. Ia berharap pengalamannya dapat menginspirasi rekan-rekan mahasiswi lainnya untuk tidak ragu melangkah ke panggung internasional.
Prestasi Selma turut mendapat sambutan hangat dari komunitas akademik IIQ Jakarta. Para dosen, mahasiswa, dan alumni menyampaikan apresiasi dan kebanggaan atas nama yang kembali diharumkan di tingkat internasional. Keberhasilan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa mahasiswa IIQ Jakarta tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam percakapan global yang lebih luas.
Bagi IIQ Jakarta, setiap prestasi bukan sekadar capaian kompetitif, melainkan buah dari proses panjang pembinaan, ketekunan belajar, dan sinergi antara mahasiswa, dosen, serta seluruh sivitas akademika. Momentum ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi, memperluas ruang kontribusi, serta membawa nilai-nilai Qur’ani ke berbagai lini kehidupan masyarakat. (FP)
