TANGERANG SELATAN – Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta (IIQ Jakarta) menggelar kegiatan Mushafahah dan Seminar Parenting bertema “Optimalisasi Peran Orang Tua dalam Mewujudkan Anak Berkualitas Sejak Dini” pada Kamis (5/3). Kegiatan ini berlangsung di Masjid Raudhatul Qur’an IIQ Jakarta mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai, serta disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube IIQ Jakarta.
Acara yang dipandu oleh Dr. Hasanah, M.Pd., selaku Kaprodi PIAUD IIQ Jakarta menjadi ruang edukasi bagi para orang tua tentang pentingnya peran keluarga dalam membangun karakter serta kualitas anak sejak usia dini.
Untuk diketahui, kegiatan ini merupakan implementasi kerjasama antara Lembaga Pusat Studi dan Gender IIQ Jakarta dan Prodi PIAUD IIQ Jakarta dengan Kemenko PMK dan KemenPPPA.
Seminar parenting ini menghadirkan dua narasumber, yakni Mustikorini Indrijatiningrum (Ir., M.E.) dan Eti Sri Nurhayati (M.I.Kom.). Dalam pemaparannya, Mustikorini menekankan pentingnya penguatan peran keluarga dalam membangun kualitas generasi sejak usia dini.
Ia menyoroti kondisi masyarakat Indonesia yang kini semakin terhubung dengan internet. Menurutnya, mayoritas penduduk Indonesia telah terkoneksi dengan jaringan digital sehingga anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi.
“Era digital membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan besar dalam pengasuhan anak. Orang tua perlu hadir tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan edukatif dalam mendampingi anak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengasuhan yang efektif di era digital membutuhkan keterlibatan aktif orang tua. Pengawasan terhadap penggunaan gawai, komunikasi yang terbuka dengan anak, serta penanaman nilai-nilai moral dan spiritual menjadi aspek penting yang tidak bisa diabaikan.
Salah satu gagasan yang disampaikan dalam seminar tersebut adalah Gerakan Satu Jam Bersama Keluarga (SatuJamKu) sebagai solusi sederhana namun berdampak besar. Melalui gerakan ini, orang tua diajak meluangkan waktu minimal satu jam setiap hari untuk berinteraksi secara langsung dengan anak tanpa gangguan perangkat digital.
Menurut Mustikorini, kebersamaan sederhana seperti berdialog, membaca, atau melakukan aktivitas bersama dapat memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak, sekaligus menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter.
Sementara itu, Eti Sri Nurhayati yang merupakan Perencana Ahli Madya pada Asisten Deputi Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah II menekankan pentingnya pemenuhan dan perlindungan hak anak dalam lingkungan keluarga. Ia menjelaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam memastikan anak dapat tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal tanpa kekerasan maupun diskriminasi.
Dalam pemaparannya, Eti juga menyampaikan sejumlah data terkait kondisi anak di Indonesia. Saat ini sekitar 28,38 persen penduduk Indonesia merupakan anak usia 0–17 tahun, atau hampir sepertiga dari total populasi. Namun demikian, tantangan perlindungan anak masih cukup besar, di mana satu dari dua anak usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.
Selain itu, persoalan kesehatan mental remaja juga menjadi perhatian serius. Berdasarkan survei nasional, satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, sementara hanya sebagian kecil yang mendapatkan layanan dukungan atau konseling.
Eti juga menyoroti fenomena fatherless, yakni minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Menurutnya, kondisi ini dapat berdampak pada berbagai aspek perkembangan anak, mulai dari rendahnya kontrol diri, menurunnya prestasi belajar, hingga meningkatnya risiko perilaku agresif dan masalah kesehatan mental.
Dalam konteks pengasuhan, ia menekankan pentingnya penerapan pengasuhan positif di lingkungan keluarga. Pendekatan ini menitikberatkan pada disiplin tanpa kekerasan, komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, serta pemahaman terhadap tahap perkembangan anak.
“Pengasuhan positif membantu anak merasa aman, dihargai, dan dicintai, sehingga mampu tumbuh dengan kepercayaan diri, empati, serta kemampuan sosial yang baik,” jelasnya.
Melalui pengasuhan yang tepat, anak dapat berkembang secara optimal dalam aspek kognitif, emosional, dan sosial. Nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kemandirian juga dapat tumbuh secara alami melalui teladan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui seminar parenting ini, para peserta diajak memahami bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter, moral, dan kecerdasan anak. (FP)
